Sunday, November 8, 2009

Klabs Berpendar

Minggu ini, setelah padam untuk beberapa waktu, klabs di Tobucil mulai berpendar. Ada Klab Menulis dengan Fiction Journey Writingnya, Klab Menulis Kreatif untuk Anak dengan negeri imajinasi ciptaan sendiri, ada madrasah filsafat dengan nafas baru, ada Klab Komik yang berpindah ke hari Jumat dan Klab Nonton yang berpindah ke hari Minggu, dan ada tips-tips ala klab klassik.

Ketika November mulai berpendar, klab-klab di Tobucil pun mulai berpendar.

Seperti di kepala korek api, cahayanya nanar tapi menyirat harapan besar.

Titipkan nyalamu pada sumbu lalu berpendar, berpendarlah.

Kalian yang berkumpul, kelak akan menjadi bola api yang menggelinding menjelajah dunia.

Teman-teman, cahaya dapat meluas tanpa batas.

Meski lahir dari pangkal yang berbeda,

di suatu titik nanti  mereka mungkin akan bertemu lagi.

Penuh sayang,

Tobuciler

 

klabsberpendar

Special present for Wikupedia and the klabs

Dicky Caesario Sang Penulis Terpotensial dan Dunia Fantasi

mainpic Dicky Caesario adalah peserta Klab Nulis paling potensial di Angkatan V. Predikat itu membuatnya bersemangat untuk kembali mengikuti Klab Nulis Angkatan berikutnya. “Supaya lebih terasah kemampuan menulisnya,” ujar Dicky dengan wajah berseri-seri.

Berikut adalah obrolan Tobucil dan pemuda baby face yang murah senyum ini

Tobucil : Gimana, Dick, rasanya jadi penulis yang paling potensial di angkatan kemaren ?

Dicky : Deg-degan, terkejut, surprise, sungguh tak menyangka.

Tobucil : Kemaren elu nulis tentang apa, sih ?

Dicky : Cerpen tentang arkeolog, banyak konspirasi. Kata Ophan, sih, kurang membumi, tapinya katanya saya bisa menuliskan adegan-adegan dengan jelas lewat kata-kata.

Tobucil : Setelah nulis cerpen arkeolog itu, apa karya terbaru lo ?

Dicky : Belom.

Tobucil : Dari kapan elu suka nulis ?

Dicky : Dari SMP kelas dua. Waktu itu teh saya baca cerpen temen, cerpen romance gitu, sih, tapi emang cerpennya bagus. Terus saya pikir, kalo dia bisa, saya juga bisalah … Saya pertama kali nulis itu nulis drama buat tugas Bahasa Inggris. Cerita putri-putri gitu, kan bahan yang dibahas tentang fantasi.

Tobucil : Elu emang suka nulis fantasi ?

Dicky : Iyalah, namanya juga waktu itu masih leutik (kecil), dijejelinnya Harry Potter, Narnia

Tobucil : Menurut lu, fantasi itu apa ?

Dicky : Di luar kebiasaan, jadi misalnya ada sihir, ada magic yang ngeluarin api …

Tobucil : Korek api geretan magic fantasi, dong ?

Dicky : Ya … kan bukan yang begitu. Yang misalnya “crut” ada api keluar dari tangan, gitu …

Tobucil : Hahahaha … ok, ok. Btw, apa kesan lo tentang Klab Nulis Angkatan VI ini ?

Dicky : Rame, lebih banyak kayaknya.

Tobucil : Yang ikut lagi dari angkatan sebelumnya kan elu sama Rini doang, ya, Dick ? Gimana rasanya Rini nggak dateng ?

Dicky : Gimana, ya ? Biasa aja, sih …

Tobucil : Ok. Sekarang balik lagi ke fantasi, nih. Apa pendapat lo tentang Dunia Fantasi.

Dicky : Naon (apa) ? Rame wae, meureun (ramai aja, mungkin), kalo bisa ditambah permainannya.

Tobucil : Kalo Tobucil kayak Dufan, nggak ?

Dicky : Yang angkatan kemaren (Klab Nulis angkatan V) iya, kan di Dufan banyak ketawa-ketawa. Yang kemaren itu banyak ketawa-ketawa, terutama sama Mbak Jre.

Tobucil : Kalo lu disuruh bikin Klab Nulis Angkatan VI ini jadi kayak Dufan, sama lo dibikin gimana ?

Dicky : Ya … suruh aja Ophan ngasih joke-joke garing.

Rini : (tahu-tahu muncul middle of nowhere, dari kegelapan di pekarangan Aceh 56) Eta mah lain Dufan ! (itu, sih, bukan Dufan)

Dicky : Terus ?

Tobucil : Itu, sih, Srimulat

Dicky : Ya udah, Ophan aja disuruh didandanin kayak badut Dufan.

Tobucil : Hahaha … tetep Ophan korbannya.

Ophan yang sedang menerima telpon hanya senyum-senyum saja. Sesudahnya ia duduk di sebelah Dicky, turut mengobrol dan … mulai melontarkan joke-joke garing. Tetot !

Tidak heran, ya, kalau Klab Nulis selalu ceria dan kaya inspirasi. Ketiga personilnya ini tampak mewakili …

Sundea

fotodua

fototiga

 

 

 

 

 

 

 

Biodata Dicky

biodata

Versus

IMG_2041

Harga : Rp 55.000,00

 Versus adalah majalah yang bergerak di bidang design grafis dan komunitas kreatif. Melalui Versus kita melihat bahwa design adalah bagian penting dari kehidupan manusia, solusi bagi berbagai masalah sehari-hari, dan tumbuh semakin kompleks bersama modernisasi, globalisasi, dan kapitalisme.

Mengenai majalah Versus :

http://versusmagz.com/

Fiction Journey Writing

-Tobucil, Senin 2 November 2009-

Klab Menulis

Klab Menulis digelar kembali. Kali ini memasuki angkatan ke-6. Dari antara sepuluh peserta, hanya satu yang tidak hadir. “Yang nggak hadir Mbak Rini, katanya lagi les dansa,” ujar Dicky, peserta yang terpilih sebagai peserta Klab Menulis paling potensial pada angkatan sebelumnya. Dari antara peserta-peserta baru, Rini dan Dicky adalah peserta yang telah mengikuti Klab Nulis angkatan sebelumnya.

Kelas hari itu dibuka dengan menonton film produksi Lontar. Film pertama menceritakan perjalanan Danarto, sastrawan sekaligus pelukis yang telah banyak menelurkan karya-karya besar. Berikutnya ditayangkan film mengenai perjalanan almarhum W.S Rendra. Menurut Ophan, film-film tersebut menjadi refrensi bagi peserta Klab Menulis mengenai bagaimana jika seseorang memilih jalan hidup sebagai sastrawan.

Selepas menonton, Ophan memancing para peserta untuk menemukan kesadaran berkata-kata dalam kehidupan sehari-hari. Tentang bagaimana seorang sastrawan memandang setiap hal lebih jauh ketimbang fungsi pragmatisnya. “Bagi seorang ilmuwan, air hanya H20. Tapi bagi seorang sastrawan, air bisa memberi macam-macam makna,” Ophan mencontohkan.

Tema yang diambil Ophan kali ini adalah “Fiction Journey Writing”. Dalam tema ini, peserta dilatih untuk menanggapi segala sesuatu dalam kehidupannya secara original, tidak terprediksi, dan penuh kejutan. Fiction Journey Writing adalah perjalanan menuju kebebasan dalam merespon.

Selamat berperjalanan, Klab Nulis Angkatan VI. Semoga selamat tiba di kebebasan …

Sundea

pesertaklabnulis Klab Menulis Angkatan VI

Duet Abadi ?

-Tobucil, Selasa 03 November 2009-

Klab Menulis Kreatif Anak

“Kak, siapa, sih, temen barunya ?” tanya Kayla.

“Ada, deh …”

“Iya, Kak, namanya siapa, deh, laki-laki atau perempuan ?” tanya Reni

“Pokoknya adaaaa … aja …”

“Yaaah …,” Reni dan Kayla kecewa.

rengkayla Sejak angkatan pertama, Reni dan Kayla adalah duet maut Kelas Menulis Kreatif Anak. Pada angkatan ke tiga ini, sempat mendaftar seorang teman baru yang sengaja “dimisteriuskan” oleh Tobuciler agar Reni dan Kayla penasaran … hehehe …

Pada angkatan kali ini, peserta Kelas Menulis Kreatif diajak menciptakan negeri sendiri. Di pertemuan pertama, mereka diajak menamai dan mendeskripsikan negeri yang mereka buat. “Negeriku namanya negeri Strawberry, setiap hari orang-orangnya minum jus strawberry dan makan roti pakai selai strawberry” cipta Kayla. “Aku negeri Black Berry, soalnya semua orangnya punya black berry dan di sana banyak kebun black berry,”sambung Reni.

Di negerinya, Reni menjadi ratu, berdamping dengan Raja Aqbill yang sering sakit-sakitan. Kenapa harus sering sakit-sakitan ? Reni hanya menjawab dengan cengiran. Kayla sendiri adalah puteri yang tinggal di negeri Strawberry bersama kedua orangtua dan saudaranya. “Tapi semuanya tinggal di rumahnya sendiri-sendiri. Rajanya punya rumah sendiri, ratunya punya rumah sendiri,” kata Kayla. Lho ?

Ketika seorang gadis kecil turun dari mobil, Kayla dan Reni mendadak terdiam. “Itu, ya, Kak, anak barunya ?” Kayla berbisik-bisik. Tobuciler mengangkat bahu. Ketika si gadis kecil masuk ke dalam Tobucil, Kayla dan Reni tampak kecewa.

Akankah Reni dan Kayla menjadi duet maut lagi ? Atau minggu mendatang si teman baru akan datang ? Kita nantikan saja apakah dalam Kelas Menulis Kreatif Anak kali ini akan ada dua kerajaan saja, atau tiga kerajaan.

Sundea

Ketika Berlebihan Dipertanyakan

n198179313975_6812 Rabu itu, Tobuciler datang ke Madrasah Falsafah. Hal yang sudah lama tidak dilakukan oleh Tobuciler, karena oleh suatu hal yang, sama sekali tidak ada kaitannya dengan malas datang ke Madfal. Madfal selalu menarik, dan, bagi Tobuciler, meski obrolannya berat-berat, tapi bisa dianggap penyegaran. Penyegaran karena, mungkin bisa mengutip kata Bambang Sugiharto: olahraga, adalah sehat, karena darah kita diguncangkan. Begitupun filsafat, kita mengguncangkan jiwa dan pikiran kita, agar, juga sehat.

Rabu itu, Madfal sedang membahas sebuah topik, yakni: Berlebihan dalam Gaya Hidup. Tobuciler datang telat, karena oleh suatu hal yang, sama sekali tidak ada kaitannya dengan sengaja datang telat. Dan ternyata, tidak apa-apa Tobuciler datang telat. Tetap boleh datang, duduk, dan mengikuti diskusi yang sudah dimulai sejak lima belas menit. Waktu itu Mas Daus yang sedang berbicara, soal ia yang pernah melihat tumpukan buku-buku bekas. Salah satunya buku Sapardi Djoko Damono, pujangga favoritnya. Harganya, sangat murah, tiga ribu lima ratus katanya. Atas murahnya harga buku tersebut, Mas Daus memborongnya habis. “Saya sampai membeli buku-buku yang tidak saya perlukan. Karena memang bukunya kelewat murah. Nah, apakah itu berlebihan?” Ia melempar pertanyaan pada forum,

Lalu datang komentar dari seorang peserta Madfal berkelamin perempuan. Yang Tobuciler tak sempat tanya nama. Dia bilang, “Sebenarnya, kata saya sih, konteks berlebihan itu biasanya ada di Asia. Kalo berdasar pengalaman saya, di Barat sana, orang-orang membeli barang sesuai fungsi. Sedangkan di sini, yang utama adalah merk, citra” Mas Heru menimpali, “Iya, memang, kenyataan bahwa dalam situasi sekarang, yang menjadi konsumsi tidak lagi barang beserta fungsinya, melainkan tanda.” Tobuciler sempat menambahkan, “Apakah mungkin, apa yang dinamakan berlebihan itu, adalah ketika kita mengonsumsi terlalu banyak petanda, ketimbang penanda?” Petanda dan penanda yang dimaksud adalah istilah Saussurean, yang berarti, petanda adalah tanda atau simbol, penanda adalah makna serta konsep dibalik tanda. Istilah tersebut awalnya berkembang dalam ranah linguistik.

Berbagai lontaran pendapat dan saling debat menjadikan Madfal cukup seru. Oia, ada yang lain dari Madfal sekarang, yakni kembalinya peran Rosihan Fahmi alias Kang Ami, sebagai moderator. Hal yang beberapa minggu kemarin sempat tidak ia pegang karena suatu keperluan, sehingga Madfal kondisinya bagai kapal ditinggal nakhoda, bus ditinggal supir bus. Ia melakukannya, menurut Tobuciler, dengan sangat baik, membuat jalannya diskusi sangat runut dan tidak melebar kemana-mana. Pada akhirnya, sang moderator memberi konklusi, yang kira-kira seperti ini: Bahwa berlebihan, punya konteksnya. Setiap orang punya batasnya sendiri, setiap aspek kehidupan pun punya. Dalam hal ini, misalnya, logika seni rupa, punya definisinya sendiri soal apa itu berlebihan. Dan memang iya, lukisan yang harganya miliaran, yang bagi beberapa orang terasa berlebihan, ternyata tidak juga untuk ukuran tertentu. Bagaimana dengan di Indonesia? Barangkali, katanya, yang diukur adalah prioritas. Ketika memajang patung berharga miliaran di tengah kota, padahal banyak anak SD yang putus sekolah, maka itu dirasa berlebihan. Terus bagaimana, Kang, kalau berlebihan itu kemudian dibagikan? Ini adalah pertanyaan yang menggantung, kata Kang Ami, karena belum sempat dibahas kemarin. Belum sempat karena jam sudah menunjukkan setengah delapan malam, lebih tiga puluh menit dari yang dicanangkan.

Syaraf Maulini

Merapat, Merapat

-Tobucil, Jumat 06 November 2009-

Klab Komik

Setelah sekian lama berkegiatan reguler di hari Kamis, Klab Komik pindah hari. Sejak 6 November lalu mereka berkumpul setiap hari Jumat pukul 16.00-18.00. Tak hanya itu, Klab Komik yang biasanya mengelar pertemuan saban dua minggu sekali, akan merutinkan pertemuan seminggu sekali.

Hari itu, para peserta Klab Komik merapatkan kegiatan Pasar Komik Bandung yang akan diadakan pada tanggal 22 November 2009 di kampus STDI (Sekolah Tinggi Design Indonesia), Jalan Wastukencana no.52, Bandung. Hingga acara berlangsung nanti, para peserta Klab Komik melakukan kumpul-kumpul di Tobucil untuk koordinasi. Kumpul-kumpul dilangsungkan setiap pertemuan reguler Klab Komik.

Di Pasar Komik Bandung ini nanti akan diadakan bazaar dan pameran komik. Untuk berjualan di bazaar, peserta tidak dipungut biaya apapun. “Tinggal bawa barang jualan dan bawa manusia yang dikorbankan buat jaga stand,” ujar Azisa sang contact person.

Karena pada dasarnya memang pembuat komik, sambil berrapat teman-teman Klab Komik sibuk membuat komik. “Hari ini kita bikin Nyi Roro Kidul, yuk,” ujar Reggie yang kemudian menggambar perempuan. Azisa pun tampak asyik dengan gambar-gambar komik wayang sedang digarapnya. Beberapa peserta Klab Komik lainnya pun sibuk mencoret-coret kertas.

Teman-teman, ingin bergabung dengan mereka ? Silakan hadir di Tobucil, Jalan Aceh no.56, hari Jumat pukul 16.00-18.00. Kumpul-kumpul dan aktivitas Pasar Komik Bandung yang sedang mereka giat ini terbuka untuk siapa saja dan menyambut gembira uluran tangan teman-teman yang ingin membantu keberlangsungannya . Kalian pun dapat mengirimkan email ke pasarkomikbandung@gmail.com atau langsung mengontak Azisa (0811210620) / Okky (08122011073).

Sundea

klabkomik

Klab Nonton Pindah Hari

Jika kau datang ke Tobucil jam enam maghrib di hari Sabtu sekarang, berharap menonton gratis di berandanya, maka jangan harap itu terjadi lagi. Bukan berarti kau sekarang diminta bayaran, tapi karena Klab Nonton Tobucil sekarang berpindah hari. Ke hari Minggu jadinya, di jam yang sama. “Karena suka bentrok dengan banyak acara di hari Sabtu, dan mengubah suasana aja, semoga bisa menambah penonton,” demikian kata Wiku, koordinator Klabs di Tobucil. Memang, dari yang Tobuciler amati, entah lewat kedatangan pribadi maupun lewat blog, Klab Nonton ini kurang banyak partisipan. Padahal, filmnya bagus-bagus, relatif langka, dan ya itu, gratis.

klabnontonbisaselfservice

Klab Nonton ini, sudah pernah mengalami perubahan jadwal. Tapi itu sifatnya insidental, yakni ketika bulan puasa. Dari tadinya jam enam maghrib, dimajukan jadi pukul empat. Cukup beralasan, mengingat jam enam, kan, waktunya buka puasa. Namun perubahan jadwal ini, kata Wiku, sepertinya akan dicoba terus bulan ini, meski belum teruji. Untuk tema bulan ini, Wiku mengaku belum merumuskannya, tapi yang pasti, di bulan Desember, Klab Nonton akan bekerja sama dengan Cinema Politica. Siapakah mereka? Jadi semacam, apa ya, gerakan yang persis dengan Klab Nonton, membuat acara nonton tanpa dipungut biaya masuk. Cinema Politica ini lingkupnya sudah internasional loh, dan kantor koordinasi mereka di Indonesia ada di dua titik, yakni Jakarta dan Yogyakarta. Menarik sebenarnya, menantikan bagaimana kerjasama mereka. Mari kita tunggu, sambil tetap menyisihkan hari Minggu.

Syaraf Maulini

Tips-tips Manggung ala Klab Klassik

 

Kau tahu, naik panggung bukanlah hal yang sederhana, buat sebagian orang. Maksudnya begini, naik panggung saja sih sederhana, tak perlu punya keberanian lebih. Tapi bayangkan, jika panggung itu berada di tengah orang banyak. Yang mana mereka bersiap menyaksikan siapa saja yang akan kemudian naik diatasnya. Lalu mereka bersiap melakukan apa saja, demi kepuasan mereka, dalam rangka merespon apapun yang terjadi di atas sana. Mau memuji, memaki, atau menyuruh turun panggung, adalah hak prerogatif penonton. Karena, satu, mereka bayar, dua, kalaupun tidak bayar, entah kenapa, penonton sepertinya berhak melakukan itu. Maka itu, penting untuk melakukan persiapan sebelum naik panggung. Di sini KlabKlassik akan mencoba memberikan tips, meski dalam konteks manggung di konser klasik. Tapi boleh loh jadi acuan, karena setidaknya ini yang Tobuciler rasakan, bahwa kenyataan bahwa musik klasik mengedepankan kesempurnaan dan kemurnian bunyi, memberikan beban yang lebih besar kala naik panggung. Sehingga bisa lah diterapkan dalam konteks manggung-manggung yang lain. Semoga bermanfaat:

1. Kenalilah medan tempatmu tampil nanti. Apakah di acara kawinan, syukuran, sunatan, café, atau resital. Akan sangat berbeda caramu membawakan nantinya, dan itu akan berkaitan dengan batas-batas kesempurnaan. Di café misalnya, boleh saja tidak terlalu sempurna dalam urusan notasi, tapi sikap bermain yang santai dan menyenangkan harus punya porsi lebih besar. Buat apa tidak melakukan kesalahan, tapi pengunjung café melihatnya kau terlalu tegang dan konsentrasi. Nah di acara resital, gaya betul-betul bonus saja, yang terpenting pertama adalah konsentrasi sehingga tidak kehilangan banyak not.

2. Jujur pada diri sendiri. Ini penting. Jadi menjelang tampil ya, biasanya kita punya perasaan-perasaan kurang enak. Nah, jika muncul rasa-rasa itu, akui saja. “Ya, saya tegang,” “Ya, saya sakit perut,” “Ya, saya deg-degan.” Biarkan itu diafirmasi, dan sebaiknya jangan sesekali ditolak dan dianggap pura-pura tidak ada. Karena, oh, sebagaimana kau adalah presiden di negara demokratis, menganggap suara mereka tidak ada, bisa menimbulkan efek bola salju yang membesar di kesempatan nantinya. Mending kau dengarkan saja aspirasi mereka, karena, sebenarnya, mereka sudah cukup puas jika diberi kesempatan menyalurkan barang sedikit. Nanti ada kalanya perasaan-perasaan tidak enak itu berhenti berbicara.

3. Ingat bahwa sebagaimana halnya kebahagiaan, tegang juga menular loh. Jadi jangan kira, kau bisa menutupi galaumu, dengan gaya yang dibuat-buat seperti tenang. Karena, tidak cuma secara gestural kau sedang berbohong, tapi perasaan tegangmu terasa juga oleh yang lain. Dan ini, akan menimbulkan efek kurang nyaman. Solusinya, banyak-banyak ngobrol, atau melepas penat kemanalah. Tapi tetap dalam kondisi siaga. Ibarat mesin, jangan biarkan ia dingin.

4. Pasrah. Ini pernyataan fatalis kah? Tidak, tapi pada detik terakhir ketika kau akan menaiki panggung, maka tak ada jalan lain kecuali pasrah. Karena kau sudah berlatih, sudah berdoa, sudah berusaha keras, dan tak punya daya upaya lagi di atas panggung nanti, kecuali menyerahkan pada situasi dan keadaan. Pasrahlah, karena itu membebaskan.

Semoga bermanfaat. Semoga sukses, karena dunia ini, panggung sandiwara.

Syaraf Maulini

RTGdipake

Klabs in the Moments

Dalam rangka merayakan pendar klabs, hari ini  fotobucil menghadirkan foto-foto kegiatan-kegiatan klabs di Tobucil.
Saat ini, ada total  7  Klabs yang sedang berjalan, Kelas Aksara Kuno menyusul Selasa mendatang, pukul 19.00  :

Klab Menulis (Senin dan Kamis pk. 17.00-19.00)
klabnulismain


klabnulis

Klab Menulis Kreatif untuk Anak (Selasa pk. 15.00-17.00)
kmadua


Madrasah Falsafah (Rabu pk. 17.00-19.00)
kelieuran

kegiatangapentingdirapat kegiatan nggak penting yang terjadi di madfal


Klab Komik (Jumat pk. 16.00-18.00) :
klabkomik
klabkomikbikincomicstrip

  
Klab Rajut (Sabtu dan Minggu, Pk. 13.00-15.00)

produklabrajut hasil karya Klab Rajut
klabrajutsatu




Klab Klassik (Minggu, minggu II dan IV, pk. 16.00-18.00)

klabklassikseharihariklabklassikdiskusirame



Klab Nonton (Minggu sore)
IMG_1089

Dua Pertanyaan Singkat

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Hamba Allah yang bernama Harish Banser (via message FB):

Kak Syaraf, bagaimana caranya dapet ijazah Unikom tanpa belajar, tanpa kuliah dan tanpa menyogok dan tanpa balik nama ijasah orang.

Terimakasih

Jawaban dari Kak Syaraf:

Saya punya saran yang sangat penting. Jadi saya akan menyuruhmu, jika memang kau mau mendapat ijazah tanpa syarat-syarat di atas, berbuat Unikom. Apa itu? Meski terdengar seperti pepatah klasik Tionghoa, tapi saya yakini bukan, yakni: U (You) Nyieun Ijazah Ku Olangan, Maneh! Jadi buatlah seperti itu, dan jangan takut untuk menuliskan kata-kata keren seperti cum laude, cogito ergo sum atau kun fayakuun. Buatlah di kertas concorde 120 gram, print dengan kualitas high, dan jangan takut tintanya melebar, karena kan, sekali beli kertas concorde, dapat sepuluh. Tandatangan? Gampang, tinggal tandatangan saja. Setelah beres, simpan ijazah itu, dan pajang di kamarmu. Sebagai motivasi agar kau belajar terus, Nak. Semoga cepat lulus ya.

Pertanyaan dari Rie Yanti (via ngobrol langsung di Taman Lalu Lintas):

Kak, kenapa tempat ini dinamakan Taman Lalu Lintas?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Mudah sekali, karena disini utopis, tak ada supir angkot.

Sambutlah Kelas Baru, Kelas Aksara Kuno


REGULER KLABS

Kelas Aksara Kuno
mulai Selasa, 10 September 2009
pk. 19.00

Madrasah Falsafah mempersembahkan diskusi mingguan dengan tema :
Kemajuan Sebagai Keyakinan Modern”
Rabu, 11 September 2009
pk. 17.00-19.00
di Tobucil, Jalan Aceh no.56
GRATIS !!

Klab Komik
Jumat, 13 Oktober 2009
Pukul 16.00-18.00

DARI LUAR RUMAH :
n173869432211_2389

14339_101878189833528_100000340428087_44736_3245428_n